Yuk Ketahui Sejarah Pasar Saham Indonesia

Yuk Ketahui Sejarah Pasar Saham Indonesia

Bisnis saham menjadi salah satu bisnis yang paling banyak di minati saat ini, karena selain menguntungkan bisnis saham juga tidak memakan banyak waktu. Namun tidak lengkap rasanya jika kamu tertarik berbisnis saham, tapi tidak mengetahui sejarah saham itu sendiri, nah di artikel kali ini kita akan bahas sejarah pasar saham di Indonesia.

Pasar saham sendiri sudah ada sejak jaman Belanda, tepatnya pada tahun 1912 di kota Batavia atau yang saat ini lebih kita kenal dengan nama Jakarta. Pada masa itu pasar saham di gunakan oleh Belanda untuk memperdagangkan saham perusahaan Belanda di Indonesia terutama yang bergerak pada bidang perkebunan, pertambangan dan jasa. 

Akibat dari perang dunia pertama dan kedua yang berefek pada kondisi politik dunia ,sehingga membuat pasar saham pada saat itu sering sekali mengalami penutupan sementara, dan pada masa itu juga pasar saham sangat memiliki peluang pertumbuhan yang sangat kecil. Lalu pasar saham di buka kembali di Indonesia pada tahun 1952, namun terbengalai sampai tahun 1977. 

Dan pada tahun 1977 itulah pasar saham baru di buka resmi oleh Presiden Suharto dan di kenal sebagai Bursa Efek Jakarta. Lalu selanjutnya pada tanggal 1 April 1983 Bursa Efek Jakarta memperkenalkan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) sebagai indikator pergerakan harga saham pada pasar saham Indonesia. Namun sayangnya pasar saham tetap masih belum menjadi pilihan para investor untuk berinvestasi, hal tersebut di sebabkan maih sedikitnya perusahaan yang terdaftar di pasar saham indonesia.

Lalu pemerintah mengeluarkan kebijakan yang di sebut “Paket Desember 1987” dan “Paket Desember 1988” , kedua paket tersebut berisikan tentang pemberian wewenang lebih besar bagi lembaga penunjang pasar modal dan yang paling utama adalah  diijinkanya investor asing untuk berinvestasi di indonesia. Dan hal tersebut terbukti ampuh untuk membangkitkan pasar saham indonesia, kebangkitan pasar saham tersebut di tandai dengan di dirikanya (BES) Bursa Efek Surabaya, lalu mulai banyak perusahaan yang terdaftar

Pasar sahampun tumbuh dengan luar biasa pada saat itu, dan puncak keemasanya terjadi pada tahun 1997 ketika IHSG berhasil mencapai level 750 lalu kemudian jatuh hingga level 300 akibat dari krisis ekonomi pada tahun 1998. Dan membutuhkan kurun waktu 5 tahun untuk pemulihanya dimana pada saat itu IHSG mampu menembus level 800 pada tahun 2004. Hingga kini pasar saham masih terus tumbuh seiring dengan dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Nah itulah sejarah singkat tentang pasar saham di indonesia, semoga menambah pengetahuan kamu tentang saham ya..

Kamu juga bisa loh belajar tentang saham melalui buku Jual Saham Anda Lebih Mahal by Santo Vibby yang bisa kamu dapatkan di tokopedia atau order langsung via whatsapp kami.

Siklus Ekonomi : Apa Itu Resesi?

Siklus Ekonomi : Apa Itu Resesi?

Mungkin bagi beberapa orang sudah tidak asing lagi dengan kata “resesi”, yup resesi merupakan sebuah tahapan dalam siklus ekonomi dimana berbagai kegiatan ekonomi mengalami penurunan.

Saat terjadi resesi atau penurunan ekonomi, biasanya akan tejadi tidak setabilnya kurs dolar, meningkatnya jumlah pengangguran, melemahnya sektor properti, dan menyusutnya produksi ekonomi. Siklus ekonomi sendiri terbagi menjadi 4 fase, diantaranya sbg:

  • Puncak

    Puncak ini bukan merupakan awal dari sebuah siklus ekonomi, namun disinilah kita akan mulai membahasnya. Puncak ini merupakan titik tertinggi pemulihan ekonomi. Pada titik ini, pengangguran sangatlah sedikit, pendapatan juga mengalami peningkatan, dan pada fase ini harga cenderung bergerak naik karena inflasi, namun bagi para investor fase ini dapat dinikmati dengan senang dan sejahtera.

  • Resesi

    Seperti halnya roda yang berputar, ekonomi pun juga mengalami perputaran. Setelah mengalami pertumbuhan yang baik, pendapatan dan jumlah pekerja mengalami penurunan. Saat siklus itu turun disitulah terjadi resesi, jika semakin buruk maka akan terjadi resesi berkepanjangan (depresi).

  • Depresi

    Depresi merupakan fase dimana ekonomi mengalami penurunan yang di gambarkan dengan total produksi dan jumlah pekerja sedang berada di dasar penurunan  dan tetap berada di fase tersebut menunggu siklus bisnis selanjutnya untuk mulai bergulir.

  • Ekspansi/Pulih

    Fase ini merupakan fase dimana ekonomi sedang berusaha untuk pulih, ekonomi akan mulai tumbuh dan bergerak menjauh dari fase depresi. Jumlah pekerja dan pendapatan berangsur-angsur membaik dan mengalami peningkatan.

Namun tidak semua siklus bisnis melewati ke 4 fase tersebut. Siklus ekonomi sendiri sangat penting untuk bisnis saham, karena dengan memahami siklus ekonomi kita jadi bisa memilih saham yang tepat pada sektor yang tepat pula.

Adapun manfaat resesi bagi investor saham adalah dapat membeli saham dalam harga murah, seperti halnya membeli barang-barang diskon di pusat perbelanjaan. biasanya teknik ini di sebut dengan value investing.

Kamu juga bisa belajar membaca candlestick melalui buku The Stock Market Secret Profit by Santo Vibby yang bisa kamu dapatkan di tokopedia atau order langsung via whatsapp kami.

Tertarik Berinvestasi Reksadana? Yuk Kenali Keuntungan Dan Resikonya

Tertarik Berinvestasi Reksadana? Yuk Kenali Keuntungan Dan Resikonya

Seperti yang telah kamu ketahui, reksadana merupakan wadah untuk menghimpun dana para pemodal untuk kemudian diinvestasikan ke dalam portofolio efek oleh manajer investasi. Portofolio efek tersebut bisa berupa saham, obligasi, instrumen pasar uang, dll.

Orang bilang jangan letakkan telur-telur anda dalam satu keranjang. Maksudnya untuk mengoptimalkan keuntungan sekaligus meminimalkan resiko perlu dilakukan diversifikasi, agar jika terjadi kerugian pada satu aset, masih bisa di cover dengan aset lain untuk menghindari kerugian yang lebih besar. Nah dan inilah keuntungan dan resiko yang terdapat investasi reksadana.

Keuntungan Berinvesatasi  Reksadana

  • Investor memiliki akses untuk menyusun portofolio dari beragam instrumen investasi yang sulit (dan mahal) untuk dilakukan sendiri.
  • Difersifikasi secara otomatis. Portofolio investor dengan sendirinya akan tersebar ke beragam aset sesuai dengan profil resiko masing-masing.
  • Barrier to entry rendah. Siapapun bisa memulai berinvestasi reksadana as low as Rp 200 ribu saja.
  • Investasi dikelola oleh MI profesional dengan administrasi oleh kustodian dan diawasi secara ketat oleh Bapepam LK.
  • Hasil investasi reksadana bukan (belum) menjadi obyek pajak. Kupon dari obligasi hingga saat ini juga belum menjadi obyek pajak.
  • Likuiditas tinggi. Unit penyertaan dapat dibeli atau dijual kembali setiap hari bursa melalui MI.
  • Investor institusional seperti dana pensiun, bank, perusahaan swasta, juga dapat memetik keuntungan dari reksadana.
  • Bagi pemerintah dan perusahaan emiten, reksadana merupakan salah satu sumber dana investasi yang dapat menjangkau investor secara luas sehingga dana terkumpul bisa jauh lebih besar.

Dalam setiap hal pasti terdapat resiko, begitu pula reksadana, walaupun kita mendapatkan banyak keuntungan dari investasi reksadana tetap saja reksadana memiliki resiko. Apa saja resiko berinvestasi reksadana? Yuk cek.

  • Turunnya NAB/NAV ketika pasar sedang kurang bergairah. 
  • Wanprestasi (default), yaitu kegagalan emiten, penerbit surat berharga, atau pihak lain yang terkait dengan transaksi gagal memenuhi kewajibannya.
  • Resiko likuiditas dalam hal cepat-lambatnya investor dapat mencairkan unit penyertaannya.

Di Indonesia sendiri reksadana memang masih memiliki potensi risiko seperti kendala peraturan, perlindungan investor, pembenahan internal pengelola reksadana, sampai soal pembelajaran publik agar masyarakat tidak terjebak semata-mata pada iming-iming returnyang menggiurkan. Bapebam LK sendiri terus menerus meningkatkan pengawasan reksadana.

Nah itulah keuntungan dan resiko yang terdapat dalam investasi reksadana.

Kamu juga bisa belajar tentang saham melalui buku Jual Saham Anda Lebih Mahal by Santo Vibby yang bisa kamu dapatkan di tokopedia atau order langsung via whatsapp kami.

 

Growth Investing Vs Value Investing, Unggulan Mana?

Growth Investing Vs Value Investing, Unggulan Mana?

Dalam bisnis saham terdapat beberapa macam strategi untuk mendapatkan keuntungan, dianataranya terdapat Growth Investing dan Value Investing, nah di antara kedua strategi tersebut kira-kira lebih unggul mana untuk mendapatkan keuntungan dalam berbisnis saham? yuk kita cek.

Growth Investing

Sebelum kita membahas tentang keunggulan menggunakan strategi Growth investing ada baiknya kita ketahui dulu apa itu Growth investing.

Growth investing adalah strategi investasi jangka panjang dengan mencari growth stock atau saham yang pertumbuhanya baik. Perusahaan yang masuk kategori growth stock adalah perusahaan yang memiliki pertumbuhan dan laba yang cukup besar. Ciri-ciri umum growth stock adalah sbg:

  1. Perusahaan besar dalam sektor industrinya.
  2. Memiliki management yang baik dan prefesional.
  3. Memiliki market yang besar.
  4. Peforma sahamnya hampir selalu konsisten mengalahkan IHSG setiap tahun.
  5. Memiliki nama baik di market (Sumber:Indoalpha)

Biasanya perusahaan dengan kreteria growth stock adalah perusahaan yang sedang tumbuh dan umumnya belum teruji dalam jangka panjang, dan dalam growth investor mencari keuntungan dari capital gain bukan dari deviden.

Keunggulan growth investing adalah dapat mendapatkan profit lebih besar dalam relatif waktu yang cukup singkat, dikarenakan kondisi portofolionya lebih sesuai dengan pasar. Namun karena growth berisi perusahaan dengan valuasi tinggi, maka potensi resikonya juga lebih besar.

Value Investing

Value investing sendiri merupakan pradigma investasi saham yang di kenalkan oleh Benjamin Graham untuk memilih suatu saham yang di perdagangkan di bawah nilai intrinsiknya.

Value Investing adalah strategi investasi dengan membeli saham yang harganya murah dan di bawah nilai intrisiknya serta berfundamental bagus. Di indonesia sendiri sudah ada banyak yang menerapkan metode ini.

Adapun kelebihan dari Value Investing adalah tidak memerlukan modal banyak dalam berbisnis saham, selama orang itu mau belajar dan mengerti kondisi fundamental sebuah perusahaan, value investing juga memiliki resiko yang rendah. Namun harus kita sadari bahwa value investing bukalah cara cepat meraih keuntungan dalam pasar modal.

Nah itulah pengertian sekilas tentang growth investing dan value investing, sejatinya tidak ada yang menjamin lebih unggulan mana, karena dua-duanya memiliki kekurangan dan kelibihan masing-masing.

Kamu juga bisa beajar membaca candlestick melalui buku The Stock Market Secret Profit by Santo Vibby yang bisa kamu dapatkan di tokopedia atau kamu juga bisa order langsung via whatsapp kami.

Apa Itu Cum Date, Ex Date Dan Recording Date?

Apa Itu Cum Date, Ex Date Dan Recording Date?

Mungkin bagi para pemula pernah dengar apa itu cum date, ex date dan recording date adalah istilah yang di gunakan saat pembagian dividen, tapi apa kalian tau apa arti dari ketiga istilah tersebut? Nah di bawah ini akan di jelaskan apa itu cum date, ex date dan recording date.

Cum Date

Cum date adalah singkatan dari cumulative date yaitu tanggal penentuan bagi para investor yang berhak mendapatkan dividen dari perusahaan tertentu karena memegang saham tersebut, cum date juga menjadi tanggal ahir seseorang dapat mencatatkan diri sebagai pemegang hak.

Cum date biasanya hanya berlangsung selama satu hari, dan apa bila kamu membeli saham setelah hari cum date maka kamu sudah masuk ex date atau kamu sudah tidak berhak mendapatkan dividen dari perusahaan tersebut.

Ex Date

Ex date adalah hari setelah hari cum date, walaupun kamu membeli saham sebanyak apapun pada perusahaan tersebut, tapi kamu membelinya pada saat hari ex date atau hari setelah cum date, maka kamu tidak akan mendapatkan hak dividen dari perusahaan tersebut.

Berbeda jika kamu membeli saham saat hari cum date, walaupun kamu membelinya 1 menit sebelum cum date berahir, maka kamu memiliki hak untuk mendapatkan dividen.

Recording Date

Recording date adalah tanggal pencatatan trader saham untuk mendapatkan dividen. Biasanya recording date jatuh pada cum date pasar tunai.

perlu diketahui bahwa dalam pembagian dividen ada yang di namakan pasar reguler dan tunai. jadi dari masing-masing cum date dan ex date terdapat pasar tunai dan pasar reguler. Nah untuk waktu recording date jatuh pada saat tanggal cum date pasar tunai.

Itulah pengertian sekilas tentang cum date, ex date dan recording date. Kamu juga bisa belajar tentang saham melalui buku Jual Saham Anda Lebih Mahal by Santo Vibby yang bisa kamu dapatkan di tokopedia atau order langsung via whatsapp.

Pentingnya Money Management Dalam Saham

Pentingnya Money Management Dalam Saham

Money Management sangat penting bagi seorang trader, karena dengan money management seorang trader dapat menghasilkan hasil yang optimal dalam trading saham.

Money management adalah kemampuan untuk mengukur modal pada saat melakukan pembelian. Dengan money management seorang trader pemula mempunyai waktu untuk mempelajari kondisi pasar tanpa takut tumbang sebelum berperang.

Fungsi money management sendiri adalah untuk melindungi dari kerugian yang terlalu besar karena kesalahan yang kita lakukan. Dan prinsip dari money management adalah ” Ketika rugi, kita rugi sedikit dan ketika untung kita untung banyak “. Adapun strategi dalam money management adalah sbg:

  • Stoploss

     

    Stoploss digunakan untuk membatasi kerugian dengan cara menjual saham lebih rendah dari pada harga pembelian, ini digunakan untuk membatasi ahan potensi kerugian yang lebih besar. Idealnya level pada stoploss adalah 3-5% dari harga pembelian.
  • Averaging

     

    Averaging digunakanuntuk membatasi kerugian dengan cara membeli kembali di harga terendah dengan jumlah lot yang sama pada pembelian awal untuk mengambil rata-rata harga ketika harga saham turun.
  • Swiching

     

    Swiching adalah cara untuk membatasi kerugian dengan cara menjual saham ketika harganya turun dan mengantinya dengan membeli saham yang emitenya lebih aman.
  • Short Sell

     

    Short sell adalah cara untuk membatasi kerugian dengan cara menjual saham ketika harganya turun serta menunggu untuk membeli kembali sampai pada saat harga saham tersebut mulai rebound (emiten yang sama).

Nah itulah sedikit pengertian tentang money management. Kamu juga bisa belajar tentang saham melalui buku Jual Saham Anda Lebih Mahal by Santo Vibby yang bisa kamu dapatkan di tokopedia atau kamu juga bisa order langsung via whatsapp.

Cara Mengetahui Harga Saham

Cara Mengetahui Harga Saham

Tentu bagi seorang trader maupun investor mengetahui harga saham sangatlah penting, dengan mengetahui harga saham kita jadi tau kapan waktu yang tepat untuk ambil buy maupun sell. Lalu bagaimana sih caranya kita mengetahui harga tertinggi dan harga terendah suatu saham?.

Pergerakan harga saham biasanya di sajikan dalam bentuk grafik yang di sebut candlestick chart. Candlestick chart sendiri merupakan jenis grafik keuangan yang di gunakan untuk mengambarkan harga suatu instrumen investasi tertentu. Candlestick  chart berbentuk seperti batang lilin. Grafik ini di kembangkan oleh seorang trader asal jepang bernama Munehisa Homa pada abad ke 18.

Cara Mengetahui Harga Saham Melalui Candlestick

Setiap candlestick mengambarkan pergerakan harga dalam satu periode. Dan jika grafik periode harian, satu candlestick mengambarkan pergerakan harga satu hari. Dalam satu candlestick mengambarkan informasi sbg :

Pengertian :

  • Open (Harga Pembukaan)
  • Close (Harga Penutupan)
  • High (Harga Temrtinggi)
  • Low (Harga Terendah)

Lalu mengapa candle memiliki warna yang berbeda? Warna dalam candlestick mengambarkan pergerakan harga saham terupdate. Saham yang mengalami kenaikan umumnya berwarna hijau atau putih, sedangkan saham yang mengalami penurunan biasanya akan berwarna merah atau hitam.

Dengan kamu bisa membaca candlestick maka kamu akan mengetahui harga tertinggi atau terendah suatu saham. Kamu juga bisa belajar tentang candlestick melalui buku The Stock Market Secret Profit by Santo Vibby yang bisa kamu dapatkan di tokopedia atau order via whatsapp.

Belajar Saham : Apa Itu Bearish, Bullish Dan Sideways?

Belajar Saham : Apa Itu Bearish, Bullish Dan Sideways?

Dalam dunia trading terdapat istilah Bearish, Bullish dan Sideways, mungkin bagi para trader profesional istilah-istilah terebut sudah sangat mengerti. Namun mungkin bagi para pemula masih ada yang belum paham dengan 3 istilah tersebut, nah di artikel ini akan di jelaskan apa itu Bearish, Bullish dan Sideway.

Bearish

Bearish merupakan kondisi bursa ketika harga saham, obligasi dan komoditas yang di perdagangkan turun dalam jangka waktu yang cukup lama. Istilah Bearish sendiri di amabil dari kata “Bear” yang berati beruang atau penjual.

kondisi bearish akan membuat harga menjadi menurun atau downtren di karenakan volume penjual lebih banyak di banding pembeli. Pada kondisi bearish akan terjadi yang namanya panic sell atau aksi jual bersamaan. Dan dalam grafik kondisi bearish biasa ditandai dengan warna merah yang berarti harga mengalami penurunan.

Bullish

Iatilah Bullish sendiri di ambil dari kata “bull” yang artinya banteng atau pembeli. Kebalikan dari Bearish, Bullish merupakan kondisi bursa harga saham, obligasi dan komoditas yang di perdagangkan naik dalam jangka waktu yang cukup lama. 

Kondisi bullish terjadi karena pembeli lebih banyak dari pada penjual sehingga harga mengalami kenaikan. Dan jika di lihat dari grafik kondisi bullish biasanya di tandai dengan warna hijau yang artinya harga mengalami kenaikan.

Sideways

Sideways adalah kondisi dimana market sedang datar, dimana terjadi keraguan dalam market. Bull dan Bearish sama-sama kuat sehingga menyebabkan Sideways.

Ciri-ciri sideways adalah terbentuknya gunung kecil dan lembah yang dangkal dengan candle hijau dan merahnya berbentuk pendek-pendek , pergerakan market stabil tidak naik tidak juga turun.

Itulah pengertian tentang Bearish, Bullish dan Sideways, intinya Bearish itu kondisi market sedang turun, dan Bullish kondisi market sedang naik sedangkan Sideway adalah kondisi market sedang datar.

Kamu juga bisa belajar tentang candle yang menunjukan kondisi market sedang Bearish atau Bullish dengan buku The Stock Market Secret Profit by Santo Vibby yang bisa kamu dapatkan di tokopedia atau order langsung via whatsapp kami.

Belajar Saham : Apa Itu Reverse Stock?

Belajar Saham : Apa Itu Reverse Stock?

Setelah artikel kemarin kita membahas pengertian tentang stock split Baca juga (Belajar Saham : Apa Itu Stock Split), maka kali ini kita akan bahas tentang Revese Stock.

Revese Stock merupakan pemampatan jumlah lembar saham menjadi jumlah lembar yang lebih sedikit dengan menggunakan nilai nominal yang lebih tinggi per lembar sahamnya secara proposional.

Pengertian mudahnya revese stok adalah pengabungan beberapa menjadi satu saham. Dan dengan adanya revese stock maka jumlah lembar saham akan menurun dan nilainya meningkat perlembarnya, namun nilai real dari saham tersebut memiliki total yang sama.

Explain :

Kamu memiliki uang 1000 an berjumlah 5, dan kamu tukarkan menjadi uang 5000 an satu, uang 5rb kamu terlihat lebih bernilai bukan? dari pada uang seribuan tadi, namun nilainya tetap masih sama. Nah inilah yang sebenarnya terjadi pada reverse stock.

Biasanya perusahaan melakukan Reverse Stock di karenakan merasa harga sahamnya sudah sangat murah dan saham yang beredar sudah terlalu banyak. Dan dengan melakukan revese stock perusahaan berharap agar harga saham tidak terlalu rendah dan berada pada range optimal, sehingga dapat meningkatkan likuiditas saham. Namun tidak ada jaminan dengan melakukan reverse stock saham perusahaan akan mengalami kenaikan.

Nah itulah pengertian sekilas tentang reverse stock yang mungkin dapat menambah sedikit ilmu kamu tentang saham. Kamu juga bisa blajar tentang saham melalui buku Jual Saham Anda Lebih Mahal by Santo Vibby yang bisa kamu dapatkan di tokopedia atau kamu juga bisa order langsung via whatsapp kami.

Apa Itu Delisting Dan Relisting?

Apa Itu Delisting Dan Relisting?

Mungkin banyak para pemula yang tidak mengetahui beeberapa istilah yang terdapat dalam dunia saham, salah satunya adalah delisting dan relisting. 

Delisting sendiri merupakan penghapusan pencatatan , Delisting terjadi apabila saham yang tercatat di Bursa mengalami penurunan kriteria sehingga tidak memenuhi persyaratan pencatatan, maka saham tersebut dapat dikeluarkan dari pencatatan di bursa. Delisting terbagi menjadi 2 yaitu, voluntary delisting dan force delisting.

Voluntary delisting terjadi karena perusahaan yang bersangkutan secara sukarela mengajukan agar perusahaan menjadi perusahaan privat. Adapun syarat-syaratnya delisting voluntary adalah sbb:

  • Pengajuan permohonan delisting dapat di lakukan setelah saham tercatat sekurang-kurangnya 5 tahun.
  • Rencana delisting telah memperoleh persetujuan dalam RUPS.
  • Perusahaan tercatat atau pihak lain yang di tunjuk wajib membeli saham dari pemegang saham yang telah menyetujui rencana delisting tersebut.

Sedangkan Force delisting sendiri merupakan penghapusan secara paksa oleh Bursa Efek, hal tersebut dapat terjadi apabila perusahaan mengalami kondisi sbb:

  • Perusahaan terbeli hutang yang besar dalam jangka panjang
  • Perusahaan terus mengalami kerugian
  • Perusahaan terkena masalah hukum yang berkelanjutan
  • Kelangsungan perusahaan terancam
  • Perusahaan tidak beroperasi lagi, dll.

Kebalikan dari delisting Relisting merupakan pencatatan kembali perusahaan yang telah ter-delisting dari Bursa Efek, dengan syarat sbb:

  • Emiten yang di delisting dari bursa mengajukan permohonan pencatatan kembali sahamnya di bursa, paling cepat 6 bulan sejak penghapusan.
  • Pernyataan pendaftaran yang di sampaikan ke Bapepam masih tetap aktif.
  • Telah memperbaiki kondisi yang menyebabkan terjadinya delisting.

Itulah pengertian sekilas tentang delisting dan relisting. Kamu juga bisa belajar tentang Candlestick melalui buku The Stock Market Secret Profit yang bisa kamu dapatkan di tokopedia  atau via whatsapp kami.