Belajar Saham : Apa Itu Support Dan Resist Dalam Trading Saham?

Belajar Saham : Apa Itu Support Dan Resist Dalam Trading Saham?

support dan resistance adalah dua atribut yang paling banyak dibahas dalam analisis. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada tingkat harga tertentu yang mencegah atau menjaga agar harga tidak terdorong ke arah tertentu. Perumpamaan mudahnya Support adalah lantainya dan resisten adalah atapnya. Utuk penjelasan lengkapnya bisa simak di bawah ini.

Support merupakan suatu level harga, dimana pada level tersebut harga cenderung berhenti bergerak turun dan kemungkinan akan naik lagi. bisa di bilang support itu merupakan level yang di perkirakan akan menehan pergerakan bearish (turun).

Pengertian mudahnya, Saat menyentuh support, harga seperti memantul kembali ke atas. Jika support ini tertembus (breakdown), maka harga akan turun ke bawah hingga menemukan titik support baru.

Resisten merupakan suatu area level harga dimana  pada level tersebut supplay cukup besar untuk menghentikan naiknya harga. Pada level ini biasanya harga cenderung berhenti bergerak naik dan kemungkinan akan turun lagi.

Pengertian mudahnya, setelah menyentuh harga resisten biasanya harga akan mengalami penurunan.  Jika resistancetembus (breakout), harga akan naik hingga resistance berikutnya.

Nah itulah pengertiann sederhana tentang suport dan resiten.

Kamu juga bisa belajar cara menentukan suport dan resisten melalui buku The Traders Bibble by Santo Vibby, yang bisa kamu dapatkan di tokopedia atau via whatsapp kami.

Belajar Saham : Apa Itu Saham Undervalue? Dan Bagaimana Cara Mengetahui Saham Undervalue

Belajar Saham : Apa Itu Saham Undervalue? Dan Bagaimana Cara Mengetahui Saham Undervalue

Belajar Saham – Salah satu investor yang terkenal dengan strategi membeli saham undervalue adalah Warren Buffet, tujuannya adalah memnimimalkan resiko dan mengoptimalkan potensi keuntungan.

Undervalue sendiri adalah adalah sebuah istilah  finansial dimana suatu investasi dijual dibawah nilai seharusnya. Penggunaan istilah ini sering ditemukan pada investasi saham dimana harga saham tersebut lebih rendah dari harga seharusnya. 

Tidak ada aturan baku yang menentukan apakah suatu saham overvalue  atau undervalue. Aturan ini kembali lagi kepada masing-masing investor dalam melihat suatu saham. Kategori undervalued biasanya dapat dianalisa dari laporan keuangan perusahaan seperti return on equity, asset, cash flow, sales dan beberapa komponen lainnya.

Walaupun tidak ada aturan baku, ada beberapa rasio yang digunakan sebagai pedoman sebagai berikut : 

  • Price to Earning Ratio (PER)
    Adalah rasio finansial yang digunakan untuk mengukur nilai perusahaan dengan cara membandingkan harga saham sekarang dengan EPS (earning per share / pendapatan per lembar saham). Rasio ini paling populer digunakan dalam melihat apakah suatu saham undervalued atau tidak.

    Saham dengan rasio PER = 15 dipercaya sebagai saham yang divaluasi secara normal. Saham dengan rasio PER di bawah 10 masuk ke dalam kategori undervalued, dan saham dengan rasio PER di atas 20 masuk ke dalam kategori overpriced. Rasio PER sangat cepat berubah dikarenakan rasio ini menggunakan komponen pendapatan perusahaan dalam periode per 3 bulan.

  • Price/Earning to Growth (PEG)
    Adalah rasio finansial yang merupakan modifikasi dari rasio PER dimana nilai PER dibagi dengan persentase pertumbuhan earning dalam suatu periode waktu. Biasanya saham yang masuk dalam kategori undervalued adalah saham dengan rasio PEG di bawah 1.

  • Price to Book Value (PBV)
    Adalah rasio finansial yang digunakan untuk mengukur nilai perusahaan dengan cara membandingkan harga saham sekarang dengan nilai buku. Biasanya saham yang masuk dalam kategori undervalued adalah saham dengan rasio PBV di bawah 1.

  • Price to Sales Ratio (PSR)
    Adalah sebuah rasio penilaian yang diciptakan oleh Kenneth L. Fisher untuk memvaluasi nilai perusahaan berdasarkan dari total pendapatan dalam 1 tahun. Biasanya saham yang masuk dalam kategori undervalued adalah saham dengan rasio PSR di bawah 1.
Di antara rasio ini, tidak ada rasio yang dapat berdiri sendiri dalam memvaluasi nilai suatu saham. Yang terbaik adalah mengabungkan beberapa rasio ini disesuaikan dengan cara investasi kita sendiri. Satu hal yang perlu diingat adalah : “Bukan berarti saham tersebut undervalued, maka harga saham akan naik. Dan sebaliknya bukan berarti saham tersebut overvalued, maka harga saham akan turun.” (sumber:darmawaninvest.blogspot.com)
 
Kamu juga bisa belajar tentang saham melalui buku The Traders Bibble by Santo Vibby yang bisa kamu dapatkan di tokedia atau pesan langsung via whatsapp kami.